Senin, 14 Maret 2011

Indahnya persahabatan

‘’aku tidak bisa melupakan kenangan itu’’
Kata wanita berusia 21 tahun yang bekerja sebagai seorang Dokter diRumah Sakit Umum. Dia adalah Arvianda Dwipa Putri, sebut saja dia adalah orang yang paling disiplin dan ramah dalam pekerjaannya sebagai seorang Dokter.
Di suatu hari Dwipa sedang memeriksa seorang pasien. Dan mengajak pasien itu berbincang-bincang, tidak lama pasien itu bercerita tentang masa-masa sekolah nya dulu.
‘’Dari mana ?’’ Tanya Dr.Dwipa
‘’Dari Kalimantan Timur dok’’ Jawab pasien
‘’oh, itu tempat lahir saya, trus ke Jakarta ngapain ?’’ Tanya Dr.Dwipa lagi
‘’oh Dokter ini juga orang sana ya .. saya ke Jakarta cuma mau berobat kok dok’’ menjawab dengan wajah senyumnya
‘’ia, oh cuma berobat aja ya, eh kayaknya umur kita nggak beda jauh ya’’ kata Dr.Dwipa
‘’umur saya 21 tahun dok, emang umur dokter 21 juga ya ?’’ Tanya pasien itu
‘’tu kan sama, saya juga 21 kok’’ jawab Dr. Dwipa
‘’wah Dokter muda ya, kenalkan dok, nama saya Ayu Novita Dewi ’’ kata pasien itu sambil mengulurkan tangan nya
‘’Ayu Novita Dewi ?, kamu SMA nya di mana ? Tanya Dr.Dwipa dengan wajah bingung
‘’di SMA N2 dok’’ kata pasien itu lagi
Mendengar pasien itu menyebutkan nama sekolah yang pernah di tempati Dr.Dwipa untuk mencari ilmu dan menggapai cita-cita, Dr.Dwipa langsung terdiam bingung. Dan ternyata pasien itu adalah teman sekelas Dr.Dwipa waktu kelas 2 SMA.
Dulu sewaktu SMA Dwipa dan Ayu sangat dekat, sampai sewaktu kenaikan kelas 3 Dwipa pindah ke Jakarta, dan Ayu sangat sedih karena sahabatnya pergi meninggalkan dia. Semenjak itu Dwipa ataupun Ayu tidak mengetahui kabar sahabatnya lagi. Dan ada salah satu teman Dwipa yang mengabarkan bahwa Ayu menjadi korban tabrak lari. Dwipa pun sedih mendengar kabar itu, karena Ayu lah teman yang menurut Dwipa sangat baik, ramah, setia, dan jujur kepada Dwipa.
Sekarang Ayu dan Dwipa bertemu lagi, dan Dwipa sangat senang. Tidak lama Dwipa langsung memeluk Ayu. 
‘’Dokter’’ kata pasien
‘’Ayu.. apa kau tak mengenali ku ?’’ Tanya Dr.Dwipa
‘’ma’af dok, mungkin dokter mengenali saya, dan mungkin juga saya mengenali dokter, tapi gara-gara saya mengalami kecelakaan 6 tahun yang lalu, saya tidak bisa mengingat apa-apa selain orang-orang terdekat saya dok’’ pasien itu menjelaskan
‘’Apa ? kamu hilang ingatan yu ? aku Via yu, teman kamu waktu kelas 2 SMA, kita selalu berdua dulu . sewaktu kenaikan kelas 3 aku pindah sekolah ke Jakarta, apa kamu tetap nggak ingat yu ?’’
‘’Via ? bukannya nama Dokter adalah Dr.Dwipa ?’’
‘’ia nama ku Dwipa, tapi Cuma kamu yang panggil aku Via’’
‘’kalau Via saya kenal dok, Via itu teman saya yang paling jahat, dia meninggalkan saya untuk sekolah nya dok, hahaahha, saya punya fotonya dok’’ sebut Ayu dengan candanya dan menunjukan foto yang ada di dompetnya
‘’Astaga yu, itu aku, sudah ah nggak usah panggil aku dok lagi ya, panggil aku Via seperti dulu’’ lanjut Dr.Dwipa sambil tertawa
‘’hmm.. ia dokter Via’’ panggil Ayu
‘’sudah selesai ni chek up nya.. seharusnya chek up nya lama, tapi karna kita tadi sambil ceritaan, jadi nggak krasa deh kalau sudah selesai’’
Setelah selesai Ayu di chek up, Dwipa segera menelfon bagian Adminitrasi, dan bilang bahwa pasien yang bernama Ayu Novita Dewi tidak perlu membayar berobat nya di Rumah Sakit ini, karena Ayu adalah sahabatnya, selain itu juga Ayu adalah yatim piatu.
 Setelah Dr.Dwipa mengetahui bahwa di kepala Ayu ada tumor, yang merusak ingatannya. Dan jika tidak segera di obati Ayu akan meninggal dalam waktu dekat.  Dr.Dwipa menangis sambil memeluk Ayu, Dr.Dwipa berkata
‘’Ayu, kamu memang nggak banyak ingat tentang kenangan persahabatan kita waktu SMA, tapi makasih ya kamu masih ingat sama aku, walaupun kita sudah 6 tahun tidak bertemu, maafin aku juga ya sudah meninggalkanmu’’
Dan Ayu diam, tidak menjawab sama sekali omongan Dr.Dwipa, Dr.Dwipa pun kaget.
‘’Yu, Ayu.. kamu nggak kenapa-kenapa kan’’ teriak Dr.Dwipa sambil menangis.
2 hari setelah kepergian ayu, Dr.Dwipa mulai semangat lagi seperti biasanya. Dia mulai sadar bahwa kepergian Ayu adalah takdir, menurut Dwipa kepergian Ayu ini setimpal dengan apa yang dilakukan Dwipa kepada Ayu 6 tahun yang lalu, walaupun Ayu meninggalkan Dwipa untuk selama-lamanya.
‘’aku ingin kau tetap menjadi sahabat ku di surga, selamat tinggal sahabat ku’’ kata terakhir Dwipa untuk Ayu.

Sabtu, 12 Maret 2011

Love at my birthday

‘’susah untuk melupakan mu’’
 Kata remaja yang bersekolah di SMA Negri 5 Jawa Barat. Remaja itu bernama Vatya Dewi, teman-temannya sering memanggilnya Vatya. Dia sekarang menginjak kelas dua Sma. Dan dia masuk kelas unggulan. Vatya itu anaknya sangat Manja, karna kemanjaannya dia sering di gangguin teman-teman cowok nya.
Di suatu pagi Vatya berangkat sekolah dengan motor matik kesayangannya, sesampainya di sekolah Vatya bertemu dengan teman sekelasnya, siapa lagi kalau bukan Dias, Dias yang sering kali mengganggu Vatya. Dias langsung mengarahkan matanya ke Vatya, tetapi Vatya langsung memalingkan wajahnya. Dias berkata.
‘’Sombongnya !’’
‘’Biarin’’ sambung Vatya sambil berlari menuju ke kelas
‘’tunggu aja ya Vatya’’ teriak Dias
‘’Apaan sih’’ menjawab dengan muka setengah marah
Sesampainya di kelas Vatya langsung menaruh tasnya di bangku yang ia duduki, dan bergegas untuk piket.
‘’kasian deh hari ini ada yang piket’’ Dias mengejek Vatya
‘’kamu tu kenapa sih Dias, nggak ada berhentinya deh ngejekin aku’’ lanjut Vatya dengan nada marah
‘’awas ya kalian, kelahian trus lama-lama jadi suka’’ sambung Lisa sahabat Vatya.
‘’apa-apaan juga’’ kata Dias
‘’ih, nggak bakal ya aku suka sama Dias yang usil ini’’
‘’iya aja deh, hehehe’’ sambung Lisa
Waktu lalu dan berlalu, pelajaran hari ini pun sudah selesai. Dan murid-murid segera pulang kerumah masing-masing.
Sesampainya Vatya di rumah, dia langsung membuka laptop kesayangannya dan memasang modem untuk online, tetapi dia harus mendengar teriakan mama nya dulu, gara-gara vatya belum ganti baju dan makan.
‘’Vatya, ganti baju trus makan,, kalau belum makan mama ambil tu laptopnya’’
‘’ia mah, Vatya makan, tapi jangan ambil laptopnya ya mah’’
Setelah Vatya selesai ganti baju dan makan, Vatya pun tidak sabar untuk membuka laptopnya lagi. Dan vatya langsung membuka akun facebooknya.
‘’waaah banyak sekali pemberitahuannya, ada 29..buka ah’’ terang Vatya
Ketika Vatya membuka pemberitahuannya yang banyak, ternyata isinya Dias semua, Vatya pun kaget.
‘’apaaaa ??? kok Dias semua isinya, apa-apaan ini,, Dias Menyukai status anda, Dias mengomentari status anda, Dias mengirimkan sesuatu di dinding anda, ahh dasar Dias nggak jelas’’ gerutu Vatya
Tidak lama Dias pun mengajak Vatya chattingan,,
‘’Vatya’’
‘’Apa ? mau ngerjain lagi ?’’
‘’nggak kok’’
‘’terus’’
‘’ya gitu deh’’
‘’dasar orang gila, notifku penuh kamu semua tau…’’
‘’hehe maaf deh.. eh tau nggak Vatya, aku suka sama orang, tapi malu mau bilang’’
‘’siapa ?? teman di kelas kita bukan ??’’
‘’iya, tapi aku malu’’
‘’ahh banci loo, bilang aja kali, nggak usah malu, siapa sih ?? aku kah yas ?’’
‘’iya Vatya’’
‘’hah ? becanda ya loo..’’
‘’nggak kok Vatya’’
‘’hahaha aku nggak percaya, yasudah aku mau jalan dulu ya, kita smsan aja’’
Vatya kaget dan langsung menutup Laptopnya, Vatya tidak mengira kalau kejadiannya bakal seperti ini, Vatya langsung menelfon Lisa sahabatnya dan Vatya menceritakan semuanya ke Lisa.
Pada saat Vatya belajar, ada pesan masuk di Handphone Vatya, dan ternyata yang sms adalah Dias, Dias mengungkapkan semua perasaannya kepada Vatya, Dias Suka kepada Vatya.
Keesokan harinya, Vatya berangkat sekolah bersama Lisa.
‘’itu Dias’’ kata lisa
‘’diam sa, aku malu ni’’
‘’makanya dengari omonganku’’
‘’ia sa’’ jawab Vatya dengan nada menyesal
‘’eh sebentar lagi kamu ulang tahun kan vat’’ kata Lisa sambil merangkul vatya
‘’iya, emang kenapa sa?’’
‘’nggak papa, traktir ya’’
Mendengar percakapan Lisa dan vatya tentang ulang tahun vatya, Dias langsung berfikir.
‘’kenapa nggak aku tembak vatya pas ulang tahun nya aja ya..hmmm bagus tuh.. kan keliatannya spesial gitu, oke tanggal 29 November nanti aku tembak Vatya’’
Sementara di akun facebook, Dias menulis status buat Vatya.
::menunggu waktu yang tepat (V)::
Teman-teman sekelasan pun langsung mengejek Dias,,
‘’Dias Vatya’’
Apa-apan juga kalian ini’’ kata vatya
Dias hanya bisa tertawa dan sesekali melirik ke arah Vatya, Vatya pun malu-malu jika Dias melirik Vatya.
Tibalah saat Vatya ulang tahun yang ke-15, tepat jam 00.00 Dias mengucapkan selamat ulang tahun kepada vatya, Vatya pun senang dan bilang terima kasih karna Dias lah orang pertama yang memberi ucapan selamat ulang tahun.
Keesokan harinya ketika vatya sampai di sekolah, Vatya langsung mendapat ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Dias langsung mendekati Vatya dan duduk di sampingnya. Dias berkata
‘’Vatya, Dias sayang Vatya, Vatya mau nggak jadi pacar Dias ?’’
Teman-teman vatya pun kembali mengejek vatya..
‘’ceileh, Dias Vatya.hahahahaha’’ kata teman-teman vatya sambil tertawa.
Karena Vatya gerogi dan tidak bisa menjawab, vatya pun langsung menarik tangan Lisa dan mengajaknya keluar. Tapi Dias langsung memasang wajah memelasnya, Vatya pun berkata
‘’nanti aja ya Dias’’
Dias pun hanya bisa trsenyum, karna Dias berharap, vatya memberikan jawaban ‘’iya’’ pada Dias.            
Ketika pulang sekolah, Vatya langsung sms Dias..
‘’Dias, maaf ya tadi vatya malu sama teman-teman jadi nggak bisa jawab deh, padahal vatya mau bilang iya tadi yas’’
Dengan cepat Dias langsung membalas sms Vatya.
‘’ia, nggak papa Vat, hah ? beneran ni Dias di terima. Makasi ya Vatya’’
Akhirnya Dias dan vatya pun jadian, setiap mereka di kelas, teman-teman selalu mengejek mereka berdua dengan sebutan Divat, ‘’Dias vatya’’ . waktu berlalu dan berlalu, seminggu sudah Dias dan vatya menjalin hubungan. Ketika di kelas sikap Dias pada vatya tidak seperti biasa, Dias dan teman-teman cowoknya bernyayi-nyanyi di kelas, mereka menyanyikan lagu berjudul ‘’Main Hati’’. Vatya pun langsung terdiam bingung, Vatya pun langsung memanggil Lisa yang ada disampingnya.
‘’Sa..’’
‘’kenapa vat ?’’ Tanya Lisa
‘’aku punya felling kalau Dias Cuma mainin aku’’ jawab Vatya
‘’maksudnya Vat ?’’ Tanya Lisa lagi
‘’nggak tau ahh sa..’’ jawab Vatya dengan wajah sedihnya.
Ketika pulang Vatya mencoba memanggil Dias, tapi Dias hanya cuek, tidak menghiraukan Vatya. Vatya pun pulang dengan Lisa.
Sesampainya di rumah Vatya pun langsung terbaring di tmpat tidurnya, beberapakali dia melirik ponselnya, tetapi tidak ada sms satu pun yang masuk. Vatya pun sedih dan sedikit mengeluarkan air mata.                                                                                                                                                        
          Setelah beberapa jam Dias menelfon Vatya, Vatya pun dengan cepat langsung mengangkat telfon Dias.
‘’Hallo Dias’’ kata vatya
‘’Vat, Dias boleh jujur nggak ?’’
‘’Kenapa ?’’
‘’tapi vatya jangan marah ya’’
‘’hmmmm’’
‘’jangan marah ya Vat’’
Vatya pun langsung menutup telfon dan menangis, karna Vatya tidak kuat mendengar Dias mengatakan ‘’putus’’. Tak lama Dias terus dan terus melelfon Vatya, tapi vatya tidak menghiraukan sama sekali. Karna Vatya tidak mengangkat telpon Dias, Dias pun sms Vatya.
‘’Vatya, maaf ya, sepertinya kita sudah nggak cocok lagi, kita jadi teman aja ya Vatya’’
Membaca sms dari Dias, Vatya semakin sedih, sudah tidak bisa menahan air mata lagi. Vatya pun tak membalas sms Dias lagi.
‘’kenapa bisa kayak gini ?? kenapa aku terima dia kemarin, aku nyesal, sangat menyesal.. toh, akhirannya juga kayak gini’’ kata Vatya sambil menangis.
Hari berganti hari.. Vatya mencoba melupakan Dias, tapi tetap tak bisa, karna Dias adalah teman sekelasnya, selain itu Dias lah kado terindah yang Vatya dapatkan dalam hidupnya. Jadi susah untuk dilupakan.
‘’Vatya, kok melamun’’ kata Lisa
‘’hmmm,, nggak papa sa, kado ulang tahun ku udah hilang sa, sedihnya’’
‘’sabar ya vatya’’
‘’ia sa, aku senang ulang tahun ku yang ke-15 aku dapat kado cinta dari Dias’’
Ketika Vatya dan Lisa sedang berbincang-bincang. Dias pun langsung berdiri di dekat Vatya. Dan berkata
‘’heyy Vat… kita temankan’’ kata dias dengan candanya
‘’hehehe mungkin’’ jawab Vatya cuek
‘’Ia donk, kita semua teman, nggak boleh ada yang musuhan’’ lanjut teman-teman
‘’Divat, Dias Vatya, hehehe bercanda’’ kata Lisa, dan semua tertawa bahagia.
* TAMAT *